NFT Sudah Sepi dari Hype, Tapi Transaksi Lama Tetap Bisa Muncul di SPT

EPAJAK.OR.ID KNOWLEDGE SYSTEM

NFT Sudah Sepi dari Hype, Tapi Transaksi Lama Tetap Bisa Muncul di SPT

FormatPost
Diperbarui13 September 2026
Waktu baca7 menit
KonteksPanduan praktis

Folder “NFT 2022” mudah terasa seperti arsip masa lalu. Marketplace yang dulu dibuka setiap malam mungkin sudah jarang dikunjungi. Harga koleksi turun, proyek berhenti mengunggah kabar, dan wallet lama tidak lagi dipasang di browser utama. Namun SPT tidak mengikuti siklus hype. Selama ada penghasilan yang pernah diterima, aset yang masih dimiliki, atau angka tahun lalu yang perlu dijelaskan, transaksi lama tetap relevan.

Masalahnya, NFT sering hanya diingat sebagai gambar yang dibeli dan dijual. Padahal satu koleksi dapat menghasilkan beberapa jenis arus: biaya minting, pembelian, penjualan, royalty, airdrop token, giveaway, gas fee, transfer antar-wallet, dan pembayaran kepada kreator. Sebagian terjadi dalam aset kripto, bukan rupiah. Jika arsip baru dibangun menjelang pelaporan, jejak tersebut mudah tercampur.

Audit paling berguna dimulai dari wallet, bukan dari ingatan tentang proyek mana yang pernah viral.

Temukan semua alamat yang pernah digunakan

Daftarkan wallet yang pernah terhubung dengan aktivitas NFT, termasuk wallet yang kini kosong. Catat jaringan, periode penggunaan, fungsi, dan siapa yang mengendalikannya. Jika wallet khusus minting pernah dipakai untuk mengurangi risiko keamanan, hubungkan wallet itu dengan wallet utama. Jika transaksi dilakukan oleh perusahaan tetapi memakai wallet pribadi pendiri, tandai masalah pemisahan tersebut secara terbuka.

Selanjutnya, unduh atau tarik riwayat transaksi dari block explorer dan marketplace yang masih dapat diakses. Jangan bergantung hanya pada halaman profil marketplace. Tampilan dapat menyembunyikan transaksi tertentu, mengganti label koleksi, atau tidak menunjukkan seluruh biaya. Explorer memberi hash dan perpindahan on-chain; marketplace memberi konteks order dan harga; rekening bank atau exchange memberi jejak saat aset kripto dibeli atau dicairkan. Ketiganya melengkapi, bukan menggantikan satu sama lain.

Waspadai NFT spam yang dikirim tanpa diminta. Keberadaannya di wallet tidak berarti pemilik membeli atau memperoleh aset bernilai. Jangan berinteraksi hanya untuk membersihkan tampilan. Tandai sebagai unsolicited token, simpan alamat kontrak, dan pisahkan dari koleksi yang benar-benar dimiliki atau diperdagangkan.

Pisahkan peran: kolektor, trader, kreator, atau pemberi jasa

Seseorang dapat memakai wallet yang sama untuk beberapa peran. Saat membeli NFT untuk koleksi, ia memperoleh aset. Saat menjual kembali, ia mengalihkan aset dan menerima pembayaran. Saat membuat NFT, pembayaran dari pembeli dapat merupakan penghasilan dari karya atau kegiatan. Saat menerima token karena mempromosikan proyek, substansinya dapat berupa imbalan jasa meskipun diberi nama whitelist atau airdrop.

Pemisahan peran menentukan pertanyaan yang perlu dijawab. Kolektor perlu menunjukkan harga dan tanggal perolehan serta status aset pada akhir tahun. Trader aktif memerlukan ledger yang lebih rinci untuk volume transaksi dan pemungutan pajak yang ada. Kreator perlu memisahkan penjualan primer, royalty sekunder, fee marketplace, pembayaran kolaborator, dan biaya produksi. Pemberi jasa perlu menghubungkan token atau NFT yang diterima dengan kontrak, invoice, atau pekerjaan.

Jangan memaksa semua arus masuk menjadi “hasil jual NFT”. Label tersebut terlalu luas. Satu wallet dapat menerima pengembalian gas, transfer dari wallet sendiri, hadiah, pinjaman, royalty, dan pembayaran karya. Setiap arus memerlukan alasan.

Bangun ulang harga rupiah pada tanggal transaksi

Transaksi NFT lazim menggunakan ETH atau token lain. Nilai rupiah tidak sama dengan jumlah token dikalikan harga hari ini. Rekonstruksi nilai pada waktu transaksi menggunakan sumber harga yang dapat ditelusuri dan metode konsisten. Simpan waktu transaksi, zona waktu, jumlah kripto bruto, fee marketplace, royalty, gas, serta hasil bersih.

Contohnya, NFT dijual seharga 1 ETH. Pembeli mungkin membayar 1 ETH ditambah gas, sedangkan penjual menerima kurang dari 1 ETH setelah fee dan royalty. Catatan harus menunjukkan nilai bruto penjualan dan komponen potongan. Jika hanya saldo bersih yang dicatat, omzet atau penerimaan dapat menjadi tidak jelas. Jika hanya harga listing yang dipakai, transaksi yang sebenarnya batal atau menerima penawaran berbeda dapat keliru masuk.

Untuk pembelian, harga NFT dan gas fee juga perlu dipisahkan. Perlakuan biaya bergantung pada karakter aktivitas dan ketentuan yang berlaku, tetapi data awal jangan dilebur. Ketika satu transaksi agregator membeli beberapa NFT sekaligus, alokasikan nilai dan biaya dengan metode yang masuk akal serta terdokumentasi.

Royalty membutuhkan baris sendiri. Pembayaran royalty dapat tiba berkali-kali dalam jumlah kecil dan dari marketplace berbeda. Catat koleksi, token atau kontrak, waktu, jumlah, marketplace, serta nilai rupiah. Perubahan kebijakan marketplace yang membuat royalty bersifat opsional tidak mengubah fakta pembayaran yang sudah diterima.

Aturan tahun transaksi harus dibaca pada konteks waktunya

Kesalahan besar dalam meninjau transaksi lama adalah menerapkan aturan 2026 seolah-olah sudah berlaku sejak awal. PMK 50 Tahun 2025 berlaku mulai 1 Agustus 2025. Aturan ini memperlakukan penyerahan aset kripto setara surat berharga sehingga tidak dikenai PPN dan mengatur PPh atas transaksi perdagangan aset kripto. Sebelum tanggal tersebut, rezim yang berlaku berbeda.

NFT juga tidak boleh otomatis disamakan dengan setiap aset kripto yang diperdagangkan melalui penyelenggara. Karakter token, hak yang direpresentasikan, mekanisme transaksi, pihak yang terlibat, dan aktivitas penjual perlu dilihat. Artikel DJP pada 2022 mengenai penghasilan penjualan NFT menekankan kewajiban melaporkan penghasilan dalam SPT dan mekanisme self-assessment pada konteks yang dibahas saat itu. Penjelasan lama berguna untuk memahami prinsip, tetapi status aturan dan fakta transaksi tetap harus diverifikasi untuk tahun terkait.

Buat timeline regulasi internal. Kelompokkan transaksi sebelum dan sesudah perubahan aturan, platform domestik dan luar negeri, serta transaksi marketplace dan transfer langsung. Jangan menggabungkan pemungutan yang pernah dilakukan platform dengan perhitungan self-assessment tanpa rekonsiliasi. Bukti pemungutan, jika ada, harus cocok dengan transaksi tertentu.

NFT yang belum terjual tetap perlu ditinjau

Tidak menjual bukan berarti NFT hilang dari persoalan pelaporan. Aset yang masih dimiliki pada akhir tahun perlu dipertimbangkan dalam daftar harta. Catat harga perolehan dan tahun perolehan berdasarkan dokumen. Nilai pasar yang jatuh tidak otomatis mengubah harga perolehan dalam daftar harta menjadi nol. Begitu pula delisting dari marketplace tidak selalu menghapus kepemilikan token on-chain.

Ada koleksi yang kontraknya masih ada tetapi gambar atau metadata disimpan pada server yang sudah mati. Ada token yang tetap dapat dilihat di blockchain tetapi tidak mempunyai pasar aktif. Ada proyek yang melakukan migrasi ke kontrak baru. Status teknis dan nilai ekonomis harus dijelaskan terpisah. Simpan token ID, alamat kontrak, jaringan, bukti perolehan, serta keterangan mengenai migrasi atau berhentinya metadata.

Jika NFT dijual rugi, jangan otomatis mengompensasikan kerugian itu dengan penghasilan lain. Perlakuannya dipengaruhi status wajib pajak, sifat kegiatan, rezim pajak yang berlaku, dan apakah penghasilan tertentu dikenai pajak final. Dalam mekanisme PPh final perdagangan aset kripto, dasar pemungutan adalah nilai transaksi, bukan laba bersih portofolio. Rasa rugi secara investasi tidak identik dengan rugi fiskal yang bisa dikurangkan.

Temukan celah antara SPT lama dan data on-chain

Setelah ledger transaksi selesai, bandingkan dengan SPT tahun-tahun terkait. Periksa daftar harta: apakah wallet atau aset digital pernah dicantumkan? Periksa penghasilan: apakah penjualan primer, penjualan sekunder, atau royalty pernah dilaporkan? Periksa pajak yang dipotong atau dipungut: apakah bukti tersedia dan nilainya sama?

Selisih dapat berasal dari kesalahan sederhana. Transaksi 31 Desember dalam UTC mungkin sudah masuk 1 Januari dalam WIB. Transfer antar-wallet sendiri mungkin dihitung dua kali. Harga rupiah mungkin memakai kurs saat pencairan, bukan saat transaksi. Royalty kecil mungkin tertinggal. Ada pula aset yang dilaporkan sebagai satu nilai portofolio sehingga detail koleksi tidak mudah ditelusuri.

Jangan langsung membetulkan SPT hanya karena dashboard baru menghasilkan angka berbeda. Validasi dulu pemetaan wallet, zona waktu, token spam, duplikasi, dan metode valuasi. Setelah fakta kuat, tentukan apakah terdapat kesalahan material dan kewajiban pembetulan. Simpan perhitungan versi lama, versi koreksi, alasan perubahan, serta dokumen pendukung. Untuk nilai besar atau tahun yang mempunyai isu pemeriksaan, minta nasihat profesional sebelum mengambil langkah.

Contoh meja kerja yang lebih realistis

Bayangkan seorang ilustrator pernah menjual lima karya NFT. Ia juga membeli dua karya teman, menerima royalty berkala, dan mendapatkan token komunitas. Pada 2026, ia hanya mengingat bahwa sebagian ETH pernah dicairkan ke rupiah. Jika pencatatan dimulai dari rekening bank, penjualan yang tidak dicairkan akan hilang. Jika dimulai dari marketplace, transfer antar-wallet dan royalty dari kontrak lain bisa hilang. Jika dimulai dari saldo wallet hari ini, aset yang sudah dijual tidak terlihat.

Rekonstruksi yang benar menghubungkan empat lapis. Kontrak atau invoice menjelaskan pekerjaan dan hak. Marketplace menjelaskan order. Blockchain membuktikan perpindahan aset. Exchange dan rekening bank menunjukkan konversi ke rupiah. Ketika empat lapis tersebut tersambung, barulah dapat dipisahkan mana penghasilan karya, mana penjualan aset, mana royalty, mana biaya, dan mana harta yang masih ada.

Hak cipta juga jangan disimpulkan dari kepemilikan token. Membeli NFT tidak selalu berarti memperoleh hak komersial atas karya, sedangkan kreator dapat menjual token tetapi mempertahankan hak tertentu. Baca syarat koleksi dan perjanjian lisensi. Pembayaran karena lisensi atau eksploitasi hak dapat membawa analisis pajak berbeda dari penjualan token semata. Label marketplace tidak cukup untuk menentukan substansi kontraknya.

Arsip final sebaiknya mempunyai folder per tahun, bukan per tren. Di dalamnya ada daftar wallet, ledger CSV, bukti marketplace, hash penting, sumber harga, kontrak karya, invoice, bukti pemungutan, dan memo rekonsiliasi ke SPT. Pertahankan file mentah serta file olahan. Jangan menimpa data sumber ketika memperbaiki klasifikasi.

Nilai NFT boleh turun, tetapi kualitas dokumentasi tidak perlu ikut turun

Hype membuat banyak orang membeli lebih cepat daripada mencatat. Ketika hype reda, kesempatan terbaik justru muncul untuk membereskan data tanpa tekanan transaksi harian. Prioritaskan tahun dengan nilai terbesar, wallet paling aktif, dan selisih paling jelas. Kerjakan dari unit aset menuju rupiah, lalu dari ledger menuju SPT.

Tujuannya bukan menghidupkan kembali pasar NFT. Tujuannya memastikan masa lalu digital tidak menjadi ruang kosong dalam kepatuhan pajak. Koleksi yang sepi, proyek yang tutup, dan marketplace yang berubah tetap meninggalkan transaksi. Selama bukti diperoleh dan setiap peran dipisahkan, cerita fiskalnya dapat disusun kembali dengan jauh lebih jernih daripada sekadar mengandalkan ingatan tentang masa ketika semuanya sedang ramai.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top