epajak.or.id Pajak UMKM di Marketplace dan Sosial Media: Gimana Cara Kerja dan Apa yang Harus Lo Ketahui?
Jadi gini, lo pasti udah gak asing sama yang namanya marketplace atau jualan di sosial media, kan? Apalagi buat lo yang punya usaha kecil atau menengah (UMKM). Platform-platform kayak Tokopedia, Bukalapak, Instagram, dan Shopee udah jadi tempat jualan yang paling banyak diminati, karena lo bisa jangkau pasar lebih luas, dan biaya operasional pun lebih efisien. Tapi, ada yang perlu lo inget nih. Walaupun lo jualan online dan ngerasa gak terlalu ribet, ternyata ada aturan perpajakan yang gak boleh lo abaikan, terutama soal pajak penghasilan dan pajak lainnya. Mungkin lo udah sering denger soal ini, tapi apa sih yang sebenernya berlaku buat UMKM yang jualan lewat marketplace dan sosial media?
Marketplace & Sosial Media: Tempat Seru, Tapi Bawa Pajak
Dulu, mungkin pajak cuma urusan toko fisik yang ada di pasar atau mall, tapi sekarang dengan makin berkembangnya dunia digital, UMKM yang jualan lewat marketplace dan sosial media juga kena pajak, bro. Kenapa? Karena transaksi jual beli yang terjadi di platform tersebut tetap termasuk dalam kategori perdagangan yang harus diawasi dan dikenakan pajak oleh negara. Jadi meskipun lo cuma jualan dari rumah atau lewat Instagram, pajak tetap harus dipikirin.
Berdasarkan aturan yang ada, pemerintah Indonesia mengenakan pajak untuk usaha yang dilakukan secara daring, terutama yang menggunakan platform marketplace dan sosial media. Ini udah diatur dalam Undang-Undang Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 dan juga dalam aturan lain terkait transaksi elektronik dan perdagangan internasional. Jadi, meskipun lo baru mulai, pemerintah tetap menganggap lo sebagai wajib pajak yang harus memenuhi kewajiban pajak sesuai dengan penghasilan yang lo terima.
Jualan di Marketplace? Jangan Lupa Cek Pajaknya!
Jadi, gimana sih sistem pajaknya kalau lo jualan di marketplace seperti Tokopedia, Shopee, atau Bukalapak? Gampangnya gini, lo akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) 21 dan juga PPN, tergantung dari jumlah penghasilan yang lo hasilkan. Untuk pelaku usaha kecil dan menengah, biasanya lo akan dikenakan tarif pajak final. Apa itu? Tarif pajak final itu adalah pajak yang dihitung langsung dari penghasilan bruto lo dan tidak perlu dihitung lagi setelah itu.
Contoh gampangnya: lo jualan sepatu online di Shopee, dan dalam setahun lo dapet omzet 100 juta. Nah, omzet tersebut bakal dikenakan pajak, tapi dengan tarif final yang lebih sederhana dibanding pajak yang biasa. Tarif pajaknya bisa mulai dari 0,5% sampai 1% dari omzet lo, tergantung ketentuan yang berlaku. Kalau lo lebih dari 4,8 juta per tahun (batas untuk UMKM), penghasilan lo akan dihitung sebagai objek pajak dan dikenakan PPh 21.
baca juga
- Undercover.co.id Bawa Machine Learning buat Bantu Bisnis Perpajakan
- Pajak Jasa Boga atau Katering
- Pajak Jasa Outsourcing
- Panduan Pajak Jasa Parkir 2025
- Rakyat Menangis Melepas Sri Mulyani Sang Bendahara Negara
Pajak untuk Penjual di Sosial Media
Sama halnya dengan marketplace, penjual di sosial media kayak Instagram, Facebook, atau TikTok juga harus melaporkan penghasilan mereka ke DJP (Direktorat Jenderal Pajak). Meskipun lo cuma jualan baju preloved atau barang handmade, jika ada transaksi yang menghasilkan uang dan jatuh di atas ambang batas tertentu, maka lo wajib melaporkan dan membayar pajak atas penghasilan tersebut. Bahkan, kalau lo berjualan lewat Instagram, misalnya, lo masih dianggap melakukan transaksi yang terkena pajak.
Pemerintah Indonesia udah mengatur kalau pedagang yang berjualan lewat platform sosial media juga termasuk wajib pajak. Jadi, walaupun lo gak punya toko fisik atau gudang, tetap ada kewajiban buat bayar pajak sesuai dengan penghasilan yang diterima dari transaksi jual beli di media sosial.
Pajak yang Harus Diperhatikan oleh Penjual di Marketplace dan Sosial Media
- PPh Final: Pajak Penghasilan ini dikenakan langsung terhadap omzet yang dihasilkan oleh UMKM. Kalau omzet lo di bawah Rp 4,8 juta per tahun, lo bisa dapetin tarif pajak yang lebih ringan.
- PPN (Pajak Pertambahan Nilai): UMKM yang berjualan barang atau jasa yang dikenakan PPN juga harus menghitung PPN yang dibebankan kepada pembeli. Tapi, ada pengecualian juga buat UMKM dengan omzet tertentu, yaitu kalau omzet lo di bawah Rp4,8 juta, lo nggak perlu bayar PPN.
Jangan Sampai Kena Sanksi!
Meskipun lo cuma berjualan online di marketplace atau sosial media, jangan pernah anggap remeh kewajiban pajak ini. Kalau lo gak melaporkan pajak dan ngelalaikan kewajiban perpajakan lo, bisa-bisa lo kena denda atau sanksi administratif. Coba bayangin deh, lo udah capek-capek jualan, eh pas ngurus pajak malah kena denda? Nah, makanya penting banget buat ngerti soal kewajiban pajak UMKM.
Solusi Agar Pajak Tidak Menjadi Beban
Jadi gimana dong? Gampang kok, solusinya adalah dengan konsultasi dengan konsultan pajak Jakarta. Dengan bantuan mereka, lo bisa lebih ngerti tentang bagaimana cara ngitung pajak lo, lapor SPT, bahkan cara mengurangi pajak secara legal sesuai aturan yang ada. Mereka juga bakal bantu lo cari solusi terbaik buat usaha lo agar tetap bisa berkembang tanpa masalah pajak yang nyusahin.
Jadi, untuk lo yang baru merintis usaha, jangan sampai salah langkah. Selalu siapin semua laporan pajak lo dengan benar dan jangan ragu buat nanya sama konsultan pajak. Karena dengan ngurusin pajak yang bener, lo bisa fokus ke yang lebih penting, yaitu jualan dan berkembang, tanpa takut masalah pajak yang bikin pusing.
Kesimpulannya, meskipun marketplace dan sosial media adalah tempat jualan yang seru dan fleksibel, ada banyak hal yang harus lo ketahui soal pajaknya. Jangan anggap remeh kewajiban pajak lo, karena itu bagian dari kontribusi lo ke negara. Gak ada salahnya buat konsultasi sama konsultan pajak Jakarta biar urusan pajak lo lebih aman dan bisnis lo tetap berkembang!
